FBS UNESA menggelar Simposium Nasional dengan Tema Menuju Teori Sastra "Dunia Jungkir Balik Budi Darma" untuk mengenang Budi Darma dan Karyanya
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (FBS UNESA) melangsungkan kegiatan Simposium Nasional pada Selasa, 14 September 2021. Acara ini digelar untuk mengenang Almarhum Budi Darma dan karyanya yang tak akan lekang oleh waktu. Kepergian Beliau memang masih menyisakan duka mendalam bagi semua orang terutama bagi dunia sastra indonesia karena kehilangan seorang akademisi yang merupakan penulis dan guru besar itu.
Mengusung tema Menuju Teori Sastra "Dunia Jungkir Balik Budi Darma" acara ini pun dihadiri oleh para sastrawan dan pakar yang ikut memaparkan materi mereka tentang teori dan ulasan tentang karya Budi Darma. Simposium nasional ini pun dihadiri oleh lebih dari seribu peserta dari berbagai penjuru yang membuktikan betapa signifikan nya peran Budi Darma bagi sastra Indonesia.
Acara yang juga dihadiri oleh Rektor UNESA Prof. Nurhasan, M.Kes tersebut terbagi menjadi 4 sesi yang dimulai dari pemaparan narasumber terpercaya yang sudah ahli dalam bidangnya. Salah satu narasumber yakni Dr Seno Gumira Ajidarma, S.sn., M.hum, yang merupakan seorang penulis dan sastrawan itu menyoroti bahwa teori sastra budi darma jika ditelisik dengan teliti memang mempunyai ciri khas yang kentara tentang manusia dan kehidupan, walaupun di beberapa area memang terkesan jungkir balik penempatannya.
Selain Dr Seno Gumira Ajidarma, S.sn., M.hum, para pakar dan sastrawan yang juga menghadiri Simposium pada selasa lalu yakni Djuli Djatiprambudi, Prof I Wayan Kun Adnyana, Faruk HT, Akmal N. Basral, Wahyudi Siswanto, Suyatno, Eka Budiantara, Ki S Hendrowinoto, Hafiz Rancajale, M. Shoim Anwar, Triyanto Triwikromo, dan Tengsoe Tjahjono. Dengan total 16 pakar yang bergelut di dunia sastra, acara ini patut diikuti dari sesi awal hingga akhir acara.
Adapun salah satu pemateri yang juga mengisi acara ini, Wahyudi Siswanto menjabarkan pada materi yang Ia bawakan bahwa tema-tema yang paling sering ditemui pada karya sastra Budi Darma berkisar pada tema (1) kekuasaan takdir, (2) kematian, (3) kekecewaan, (4) kesendirian, (5) kekejaman, dan (6) cinta. Hal ini terlihat signifikan jika dilihat dari karya-karya novel Budi Darma seperti Olenka, Rafilus, dan Ny. Talis yang sangat dominan bertemakan tentang kekuasaan takdir.
Tak hanya itu, baik novel dan cerpen yang Beliau tulis pun syarat akan makna ketidakadilan hidup, kesepian, dan juga kematian seperti yang tampak pada cerpen “Ketjap Nomor Satu di Sekeliling Baji”, “Krematorium itu Untukku”, “Pengantin”, “Sebelum Esok Tiba”, “Secarik Surat”, “Laki-laki Tua Tanpa Nama”, “Joshua Karabish”, “Ny. Eberhart”, “Orez”, “Ranjang”, “Kitri”, dan “Kritikus Adinan”. Karya-karya tersebut secara garis besar menitikberatkan pada tema kematian.
Selain itu, Dosen Sastra Inggris unesa yang juga seorang penulis, Much Khoiri, juga ikut memaparkan materi pada acara ini. Yang mana beliau menyebutkan bahwa pandangan karya-karya Budi Darma mempunyai pandangan yang patut disoroti karena kelihaiannya dalam menyusun tema pada suatu karya. Pandangan ini juga sangat menarik yang membuat peran Budi Darma di lingkup sastra khususnya di Indonesia begitu signifikan.
Penghayatannya tentang kehidupan dan manusia pada karya Budi Darma begitu dalam. "Dalam menginspirasi anak muda, dan menjadi sumber inspirasi, karya dan jasa beliau sangat besar bagi mereka, khususnya sastrawan di negeri ini," tuturnya. Dengan acara ini, diharapkan karya Budi Darma akan tetap hidup dan menjadi cahaya penerang yang tidak akan pernah redup bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.
Comments
Post a Comment